Lumut Kerak: Pengertian, Ciri, Klasifikasi Dan Contohnya

Posted on

Lumut Kerak – Lumut kerak (lichen) adalah organisme simbiotik yang terbentuk dari ketergantungan mutualistik antara fungi (jamur) dan alga atau sianobakteri. Kehidupan bersama ini menciptakan entitas baru yang memiliki sifat-sifat unik dan kemampuan untuk hidup di berbagai lingkungan, termasuk tempat-tempat yang keras dan ekstrem seperti batu-batuan, kulit kayu, atau daerah dengan kadar air yang rendah.

Dalam hal ini dunia ada beragam jenis tumbuhan yang berhasil teridentifikasi ke dalam kingdom plantae, dari semua tumbuhan yang ada ternyata ada sebuah makhluk hidup yang sepintas terlihat seperti tumbuhan, namun bukanlah tumbuhan dan hidup secara simbiosis yakni lumut kerak.

Banyak yang mengira jika lumut kerak termasuk ke dalam klasifikasi bryophyte pada kenyataannya tidak. Nah berikut ini penjelasan lebih lanjut mengenai Lumut Kerak.

Pengertian Lumut Kerak

Lumut kerak (lichen) adalah simbiosis mutualisme antara alga atau sianobakteri dengan fungi (jamur). Keduanya saling bergantung satu sama lain untuk bertahan hidup. Alga atau sianobakteri memberikan fotosintesis dan menyediakan nutrisi organik, sedangkan fungi memberikan tempat tinggal dan melindungi alga atau sianobakteri dari lingkungan yang ekstrem.

Struktur lumut kerak terdiri dari dua komponen utama:

  • Fungus (Jamur): Biasanya berperan sebagai inang utama dan memberikan struktur tubuh lumut kerak. Fungus membentuk jaringan yang menutupi atau melibat sel-sel alga atau sianobakteri.
  • Alga atau Sianobakteri: Memiliki kemampuan fotosintesis dan menyediakan nutrisi organik untuk lumut kerak. Alga yang umumnya terlibat adalah ganggang hijau atau ganggang biru-hijau.

Lumut kerak dapat ditemukan di berbagai habitat, termasuk batu-batuan, kulit kayu, tanah, dan bahkan pada permukaan bangunan. Mereka sering kali mampu tumbuh di lingkungan yang keras, seperti batu-batuan yang terpapar sinar matahari atau lingkungan dengan kadar air yang rendah.

Keberadaan lumut kerak di lingkungan dapat memberikan dampak ekologis dan ekosistemik, termasuk kontribusi pada siklus nutrisi dan suksesional. Beberapa lumut kerak juga memiliki kepekaan terhadap polusi lingkungan, sehingga pengamatan populasi lumut kerak dapat digunakan sebagai indikator kesehatan lingkungan.

Lumut kerak merupakan contoh unik dari kerja sama antara dua kelompok organisme yang berbeda, menciptakan entitas baru yang mampu beradaptasi di berbagai kondisi lingkungan.

Apa Peran Lumut Kerak?

Lumut kerak (lichen) memiliki beberapa peran dan kontribusi penting dalam ekosistem di mana mereka hidup. Berikut adalah beberapa peran lumut kerak:

  • Fotosintesis: Komponen alga atau sianobakteri dalam lumut kerak melakukan fotosintesis, menghasilkan zat-zat organik dan oksigen. Ini memberikan kontribusi pada siklus karbon dan menjadi sumber makanan untuk organisme lain di ekosistem.
  • Pionir Ekologis: Lumut kerak sering kali merupakan pionir ekologis yang pertama kali tumbuh pada substrat baru, seperti batu-batuan atau tanah yang baru terbentuk. Mereka membantu menciptakan kondisi yang lebih sesuai untuk tanaman dan organisme lainnya untuk tumbuh.
  • Erosi Tanah: Lumut kerak dapat membantu mengurangi erosi tanah dengan menyimpan dan mengikat partikel tanah. Ini membantu mencegah tanah hanyut oleh air hujan atau angin.
  • Penyedia Habitat: Lumut kerak menyediakan habitat mikro untuk berbagai organisme mikroskopis. Beberapa hewan mikroskopis dapat hidup di antara sel-sel lumut kerak atau menggunakan struktur lumut kerak sebagai tempat berlindung.
  • Penyedia Nutrisi: Lumut kerak dapat memberikan nutrisi bagi tanaman dan organisme lain melalui dekomposisi dan pelepasan senyawa-senyawa organik ke dalam tanah.
  • Indikator Kualitas Udara: Beberapa spesies lumut kerak sensitif terhadap polusi udara. Oleh karena itu, keberadaan atau ketiadaan lumut kerak di suatu area dapat digunakan sebagai indikator kualitas udara dan tingkat polusi.
  • Model Studi dalam Sains Lingkungan: Lumut kerak sering kali digunakan sebagai model studi dalam penelitian sains lingkungan untuk memahami dampak perubahan lingkungan, perubahan iklim, atau polusi terhadap organisme hidup.
  • Produksi Senyawa Aktif: Beberapa lumut kerak menghasilkan senyawa-senyawa yang memiliki potensi farmasi atau kegunaan bioteknologi. Senyawa ini dapat memiliki sifat antibakteri, antivirus, atau antiinflamasi.
  • Ekologi Suksesi: Lumut kerak dapat memainkan peran dalam proses suksesi ekologis, membantu mempersiapkan substrat untuk tanaman dan organisme lainnya.
  • Adaptasi Terhadap Kondisi Ekstrem: Beberapa spesies lumut kerak dapat hidup di lingkungan yang keras, seperti di batu-batuan yang terpapar sinar matahari atau di daerah dengan kadar air yang rendah.
Baca Juga :  Cara Lumut Berkembang Biak

Keberadaan lumut kerak dan perannya dalam ekosistem menunjukkan kerja sama yang unik antara fungi dan alga atau sianobakteri, menciptakan entitas yang dapat bertahan hidup di berbagai kondisi lingkungan.

Karakteristik Lumut Kerak

Lumut kerak atau linchens ialah bentuk simbiosis antara ganggang dengan jamur. Jenis ganggang yang bersimbiosis yakni fikobion dari jenis Cyanobacteria dan Chlorophyta, sedangkan jenis jamur yang melakukan simbiosis berupa Mikobion dari jenis Ascomycota.

Setidaknya ada sekitar 18.000 jenis lumut kerak yang tersebar luas dan berada di berbagai habitat seperti kayu yang membusuk batuan, kulit pohon, tembok, pagar dan juga dipermukaan tanah yang memiliki ketahanan terhadap suhu dingin, panas dan kekeringan.

Lumut kerak dianggap sebagai pioneer sebelum jenis lumut lain dapat hidup di sutau tempat Lumut Kerak bukanlah tumbuhan bukan pula suatu organisme, namun suatu ekosistem kecil hasil asosiasi simbiotik dari dua atau tiga mitra berbeda satu dengan lainnya.

Mitra yang paling dominan untuk simbiosis lumut kerak yakni jamur atau fungsi dengan ganggang (algae) Cyanobacteria. Seperti yang diketahui jika jamur tidak memiliki zat hijau daun atau klorofil untuk melakukan proses fotosintesis, oleh karena itu jamur melakukan simbiosis dengan ganggang yang dapat membuat makanan dengan cara fotosintesis.

Sedangkan ganggang tidak mampu menyerap air yang berada di sekitarnya, sehingga ganggang membutuhkan air yang hanya mampu dilakukan oleh jamur. Hubungan keduanya ini lebih dikenal sebagai simbiosis mutualisme atau saling member keuntungan.

Habitat dari lumut kerak cukup luas, mulai dari tropis basah, hutan hujan hingga wilayah Artik (dekat Kutub Utara). Di kawasan tundra, lumut kerak menjadi makanan bagi rusa kutub.

Oleh karena kemampuannya yang dapat hidup di permukaan batu, lumut kerak menjadi tumbuhan perintis yang berguna dalam proses pelapukan batuan.

Ciri – Ciri Lumut Kerak

Adapun ciri-ciri dari lumut kerak antara lain:

  • Memiliki warna hijau muda dengan bercak keputihan dan serbuk mirip tepung. Serbuk tersebut berasal dari sel-sel ganggang yang terbungkus oleh hifa.
  • Biasa melekat pada benda-benda tertentu seperti batu, kulit pada batang pohon, tanah, tembok atau tempat apapun yang tidak mungkin ditempati oleh makhluk hidup lainnya.
  • Tahan terhadap lingkungan yang minim air dalam kurun waktu lama.
  • Dapat menjadi kering akibat sinat matahari, namun tidak mati. Ketika terkena air seperti hujan, dapat hidup kembali.
  • Berproduksi dengan bantuan soredium.
  • Komponen jamurnya dapat menghasilkan spora dan hanya dapat membentuk lumut kerak apabila jatuh dekat alga atau ganggang yang merupakan simbionnya.
  • Berbentuk thallus yang tipis. Pada irisan melintang di bagian thallus terlihat bagian luar yang berupa miselium dan hifa.
  • Dapat menjadi indikator pencemaran udara, sebab lumut kerak tidak dapat hidup jika udara telah tercemar.
Baca Juga :  10 Contoh Daun Menyirip

Struktur Anatomi Lumut Kerak

Jika dilihat di bawah mikroskop, lumut kerak yang telah disayat akan terlihat mempunyai misellium atau jalinan hifa yang amat teratur. Pada lapisan permukaan terdapat kelompok alga bersel satu berada di sela-sela jalinan hifa.

Struktur anatomi pada lumut kerak secara garis besar sebagai berikut:

  • Korteks (Lapisan Luar)
    Lapisan yang tersusun atas sel-sel jamur, rapat dan kuat. Berfungsi untuk menjaga lumut kerak agar tetap dapat tumbuh.
  • Lapisan Gonidium
    Lapisan yang terdapat sel-sel ganggang. Berfungsi membuat makanan dengan cara melakukan fotosintesis.
  • Lapisan Empulur
    Lapisan yang terdiri atas sel-sel jamur yang tidak rapat. Lapisan ini berfungsi menyimpan persediaan air dan juga tempat terjadinya proses perkembangbiakan.

Untuk jenis lumut kerak berdaun (feliose) dan perdu (fruticose), mempunyai korteks bawah yang susunannya sama seperti korteks bagian atas. Namun menghasilkan sel-sel tertentu agar dapat menempel di substrat yang disebut juga sebagai rizoid.

Struktur Morfologi Lumut Kerak

Adapun struktur morfologi lumut kerak diantaranya yaitu:

Morfologi Luar

Tubuh lumut kerak disebut juga sebagai thallus yang apabila dilihat secara vegetatif mirip seperti alga dan jamur. Thallus ini berwarna hijau keabu-abuan atau abu-abu, namun pada beberapa jenis thallus dapat berwarna kuning, coklat, orange, atau merah sesuai dengan habitatnya.

Terdapat bagian tubuh lain yang memiliki bentuk memanjang secara selluler bernama hifa. Hifa merupakan bagian vegetatif dari thallus atau miselium. Sedangkan untuk alga selalu berada di permukaan thallus.

Medulla

Medulla merupakan lapisan hifa yang memiliki bentuk berjalinan dengan suatu bagian tengah yang luas serta agak longgar. Hifa jamur di medulla letaknya tersebar ke segala arah dengan dinding yang cukup tebal.

Sedangkan untuk hifa yang berada di bagian lebih dalam, tersebar di sepanjang sumbu tebal pada bagian atas serta lebih tipis di bagian ujungnya. Lapisan-lapisan tersebut membentuk suatu untaian yang saling berhubungan antara dua pembuluh.

Korteks Bawah

Untuk bagian korteks bawah tersusun atas struktur hifa yang sangat padat serta membentang secara vertikal terhadap permukaan dari thallus atau sejajar dengan kulit di bagian luar.

Korteks bagian bawah ini merupakan bagian akar atau bisa juga disebut sebagai rhizines. Namun ada beberapa jenis lumut kerak yang tidak memiliki korteks bawah dan pada bagian ini digantikan oleh suatu lembaran tipis dengan bagian yang terdiri dari hypothallus.

Selain itu, pertumbuhan pada lumut kerak juga menunjukkan bentuk morfologi yang berbeda-beda, antara lain:

  • Foliose
    Thallus berbentuk lembaran dan mudah dipisahkan dari bagian substratnya. Membentuk bercak-bercak pada tembok, batu, dan juga kulit kayu pohon. Bagian bawah melekat pada substrat sedangkan bagian atas menjadi tempat terjadinya proses fotosintesis. Jenis foliose dapat tumbuh dengan garis tengah sekitar 15 hingga 40 cm tergantung lingkungannya.
  • Crustose
    Berbentuk datar mirip kerak, terlihat seperti coretan-coretan kecil, tumbuh pada kulit batang pohon atau batang kayu yang telah mati.
  • Fruticose
    Thallus berbentuk tegak mirip perdu, menempel pada substrat oleh satu atau lebih akar. Dari beberapa jenis lumut kerak ini memiliki kandungan sebagai antibiotik atau anti kanker. Biasanya hidup bergelantungan di udara dan menempel pada pepohonan di atas pegunungan.
  • Squamulose
    Jenis lumut kerak yang merupakan percampuran dari bentuk kerak dan daun.
  • Lumut Kerak Berfilamen
    Lumut kerak ini berbentuk seperti kapas wol, berwarna jingga kekuningan atau hijau cerah. Biasa tumbuh pada kulit kayu pohon dan juga perdu. Fungsi dari hypothallus sendiri yakni sebagai perlindungan atau proteksi.

Klasifikasi Lumut Kerak

Lumut kerak sebenarnya sulit untuk diklasifikasikan sebab merupakan penggabungan antara alga dengan jamur (fungi).

Klasifikasi Kelompok Jamur

Para ahli berpendapat jika lumut kerak dapat diklasifikasikan ke dalam kelompok jamur yang sebenarnya, yakni

Baca Juga :  Jaringan Sklerenkim: Pengertian, Sifat, Ciri, Fungsi Dan Jenisnya
Kelas Ascolichenes
  • Discomycetales
    Dicirikan dengan bentuk tubuh berupa apotesium misal Usnea barbata dan Usnea dasypoga yang dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Usnea menghasilkan suatu antibiotik berupa asam usnin yang bermanfaat dalam melawan penyakit tuberculosis.
  • Pyrenomycetales
    Kelas ini memiliki tubuh buah yang menghasilkan senyawa berupa peritesium. Contoh dari kelas ini yaitu Dermatocarpon dan Verrucaria.
Kelas Basidiolichenes

Adapun ciri-ciri dari kelas Basidiolichenes antara lain:

  • Mempunyai thallus berbentuk seperti lembaran-lembaran.
  • Pada bagian tubuh buah terbentuk sebuah lapisan himenium yang mengandung basidium, berbentuk mirip tubuh buah Hymenomycetales.

Kelas Basidiolichenes ini banyak dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan obat-obatan dan juga pembuatan zat warna. Contoh dari kelas ini yakni Cora pavonia dan Rocella tinctoria yang dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan kertas lakmus.

Klasifikasi Berdasarkan Habitat

  • Corticolous: hidup pada kulit kayu (Parmelia)
  • Saxicolous: hidup di bebatuan (Peltigera)
  • Terricolous: hidup di tanah (Cladonia floerkeana)
  • Lignicolous: hidup di kayu (Cyphellum)

Klasifikasi Berdasarkan Distribusi Komponen Ganggang (Alga) di Thallus

  • Heteromerous thalli: sel-sel ganggang membentuk suatu lapisan yang berbeda. Dapat pula di antara bagian alga dan hifa jamur memiliki lapisan berbeda (Parmelia)
  • Homoisomerous thalli: sel-sel ganggang dan hifa jamur tersebar secara merata pada thallus (Collema).

Klasifikasi Berdasarkan Struktur Thallus

  • Leprose lichen: thallus berupa sisik kecil yang melekat pada permukaan substrat (Lepraria)
  • Foliose: thallus berupa daun dengan bentuk datar dan berlekuk-lekuk, melekat pada substrat di satu atau banyak titik (Parmelia)
  • Crustose: thallus mirip kerak, melekat erat pada substrat pada beberapa titik (Graphis)
  • Fruticose: thallus bercabang, terjumbai dengan lebat atau tegak (Usnea)

Cara Reproduksi Lumut Kerak

Lumut kerak dapat bereproduksi dengan dua cara yakni secara aseksual dan seksual.

Aseksual

Reproduksi lumut kerak secara aseksual atau vegetatif terbagi menjadi tiga macam:

  • Fragmentasi
    Pada bagian ini dilakukan dengan cara memisahkan bagian tubuh lumut kerak yang telah cukup tua dari tubuh induknya. Bagian yang dipisahkan dapat dilakukan secara alami ataupun buatan. Bagian yang dipisahkan ini disebut sebagai fragmen yang nantinya mengalami perkembangan menjadi individu baru. Beberapa jenis lumut kerak, pada bagian yang terlepas ini dapat terbawa oleh angin dan menempel pada suatu tempat, sesuai dengan jenis lumut kerak.
  • Isidia
    Isidia dapat menjadi bagian dari lumut kerak yang dapat menjadi individu baru. Isidia akan terlepas dari thallus di tubuh induknya. Di masing-masing thallus memiliki simbion yang akan mengalami pertumbuhan menjadi individu baru.
  • Soredia
    Soredia merupakan sel yang amat kecil dan ditemuan pada bagian sel ganggang yang sedang membelah. Sel-sel soredia akan menyelubungi benang pada miselium. Pada bagian yang telah diselubungi soredia, nantinya akan lepas dari bagian induknya. Selanjutnya bagian soredium akan menyebar seperti abu yang mudah tertiup oleh angin. Nantinya abu-abu tersebut akan tumbuh menjadi lumut kerak baru sesuai yang sama dengan induknya.

Seksual

Perkembangbiakan secara seksual atau generatif pada lumut kerak umumnya dilakukan secara terbatas. Perkembangbiakan ini biasanya dilakukan oleh jamur dan ganggang secara terpisah.

Artinya baik jamur maupun ganggang dapat melakukan reproduksi secara seksual tanpa perlu melibatkan simbionnya. Pada jamur perkembangbiakan seksual dapat dilakukan dengan membentuk askokarp atau basidiokarp yang di dalamnya terdapat spora.

Apabila spora tersebut telah matang, baik askokarp atau basidiokarp akan pacah dan terlepas untuk kemudian terbang terbawa angin. Apabila spora tersebut jatuh di tempat dan lingkungan yang mendukung serta bertemu dengan ganggang, maka akan terbentuk lumut kerak baru.

Demikianlah pembahasan mengenai Lumut Kerak semoga dengan adanya ulasan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan kalian semua,, terima kasih banyak atas kunjungannya.