Ekosistem Estuari: Karakteristik, Manfaat, Fungsi, Klasifikasi dan Konservasinya

Posted on

Ekosistem Estuari – Estuari merupakan ekosistem unik yang terletak di perbatasan antara lingkungan air tawar dan air asin, di mana sungai bertemu dengan laut. Ekosistem estuari memiliki karakteristik yang khas dan mendukung keanekaragaman hayati yang tinggi.

Habitat ekosistem estuaria adalah wilayah perairan muara yang terhubung dengan laut. Habitat estuaria secara luas memengaruhi penghuni di dalamnya. Spesies ikan dan krustasea memanfaatkan estuaria sebagai tempat hidup.

Habitat estuaria diperlukan untuk beberapa siklus hidup spesies laut. Salah satunya spesies ikan. Ekosistem estuaria memiliki fungsi dan manfaat bagi siklus hidup spesies ikan.

Artikel ini akan mengulas secara lengkap tentang ekosistem estuari, meliputi definisi, karakteristik, fungsi, serta upaya konservasi yang perlu dilakukan untuk menjaga kelestarian ekosistem ini.

Apa Itu Estuari?

Kata ‘estuari’ berasal dari bahasa Latin yakni “aestuarium” yang berarti aliran air pasang dari laut, dengan akar katanya adalah “aestus” (pasang surut air laut). Terdapat banyak pengertian mengenai estuari.

Estuari adalah daerah peralihan antara ekosistem air tawar dan air laut, tempat air tawar dari sungai bertemu dengan air asin dari laut. Estuari dapat ditemukan di muara sungai dan teluk, mencakup daerah yang dipengaruhi oleh pasang surut.

Estuari merupakan suatu badan air pesisir semi tertutup, terhubung bebas dengan laut terbuka, pada bagian dalam air laut telah tercampur dan terencerkan oleh air tawar yang mengalir dari daratan.

Pengertian lain dari estuari yakni badan air semi tertutup yang terhubung hingga ke laut sejauh batas pasang surut ataupun batas intrusi garam, menerima limpasan air tawar, namun air tawar masuk secara bertahap dan tidak terus menerus, hubungan dengan air laut mungkin tertutup untuk sebagian waktu dalam setahun, sementara pengaruh dengan pasang surut air laut ada kemungkinan dapat diabaikan.

Estuari juga dapat diartikan sebagai perairan pesisir dengan mulut sungai bertemu lautan, sehingga menjadi tempat pertemuan air tawar dari sungai dengan air asin dari lautan. Akibat pertemuan kedua air tersebut, maka wilayah estuari menjadi payau atau brackish.

Karakteristik Ekosistem Estuari

Adapun Karakteristik Ekosistem Estuari diantaranya yaitu:

Keanekaragaman Hayati

Estuari dikenal sebagai tempat dengan keanekaragaman hayati yang tinggi. Lingkungan yang berubah-ubah antara air tawar dan air asin memberikan peluang bagi berbagai spesies untuk berkembang biak.

Pasang Surut

Pasang surut menjadi faktor penting dalam ekosistem estuari. Perubahan tinggi air yang terjadi akibat pasang surut memengaruhi kondisi hidup organisme dan memainkan peran dalam siklus nutrisi.

Baca Juga :  Ekosistem Laut Dalam: Pengertian, Karakteristik, Ciri, Dampak dan Pentingnya Konservasi

Substrat Beragam

Dasar perairan estuari dapat terdiri dari lumpur, pasir, atau kerikil. Substrat yang beragam memberikan tempat berlindung dan makanan bagi berbagai jenis organisme.

Zona Perbatasan

Estuari memiliki zona perbatasan yang disebut zona intertidal, di mana organisme harus dapat beradaptasi dengan perubahan kondisi air dan keberadaan air laut yang tidak tetap.

Fungsi Ekosistem Estuari

Adapun Fungsi Ekosistem Estuari diantaranya yaitu:

Penyaring Pencemar

Vegetasi dan substrat di estuari berperan sebagai penyaring alami yang membantu mengurangi kadar pencemar dari air sungai sebelum mencapai laut.

Nursery untuk Organisme Laut

Estuari sering berfungsi sebagai tempat perlindungan dan berkembang biak bagi berbagai jenis ikan dan invertebrata. Anak-anak ikan dan hewan air lainnya menemukan tempat yang aman di estuari sebelum mencapai tahap kehidupan di laut terbuka.

Produktivitas Tinggi

Estuari memiliki produktivitas biologis yang tinggi karena adanya aliran nutrien dari sungai dan proses dekomposisi yang cepat.

Siklus Nutrisi

Estuari membantu mengatur siklus nutrisi laut dengan memperkenalkan nutrien dari sungai ke laut dan sebaliknya. Proses ini mendukung kehidupan di kedua ekosistem tersebut.

Manfaat ekosistem estuaria untuk migragi spesies ikan

Terdapat tiga pola migrasi pada ikan yang memanfaatkan estuaria sebagai tempat bereproduksi dan mencari makan:

  • Pemijah air asin (oseanodrom laut), di mana larva melakukan imigrasi masuk ke estuaria.
  • Pemijah estuaria, di mana larva menghabiskan sebagian besar hidupnya di estuaria.
  • Pemijah air tawar (potamodrom), di mana ikan pada fase larva dan juvenil terikut arus air sungai atau berenang masuk ke estuaria.

Klasifikasi Estuari

Estuari dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis, yakni:

Berdasarkan Pada Geomorfologi

Tipe Laguna

Tipe ini membuat estuari terlihat hampir terisolasi karena adanya beting penghalang di bagian laut, dapat berupa pulau maupun tanjung penghalang. Oleh karena itu, estuari tipe laguna ini hanya terhubung dengan laut terbuka melalui satu atau beberapa celah sempit yang menjadi tempat keluar masuknya air laut.

Tipe laguna biasanya terbentuk pada kawasan dengan pantai landai, tepi benua yang stabil secara tektonik, dan juga tepi laut dengan pinggiran ombak tidak telalu besar. Ciri utama dari tipe laguna ini adanya beting yakni timbunan pasir atau lumpur yang memanjang di sekitar tepi laut.

Beting penghalang pada tipe laguna dapat terbentuk oleh beberapa faktor, misal:

Beting pasir yang terbentuk oleh pasir dasar laut yang terangkat lalu diendapkan oleh gelombang laut. Umumnya memanjang sejajar dengan garis pantai.

Beting karang merupakan beting yang berasal dari batu atau tanah pantai yang tererosi saat terjadi penggenangan oleh air laut yang naik. Hingga akhirnya membentuk semacam teluk kecil. Beting karang ini merupakan sisa-sisa dari bagian yang tidak mengalami erosi.

Beting lumpur yang merupakan sedimen dari sungai, namun tetahan oleh gelombang dan arus laut, lalu diendapkan di bagian muka muara.

Beting tanah atau pasir merupakan beting yang berasal dari ujung tanjung kecil yang mengalami erosi pada bagian pinggir, akan tetapi bertambah panjang akibat tambahan endapan di ujung akibat arus laut dan gelombang.

Tipe Fjord

Estuari tipe fjord terbentuk pada muara sungai dengan lembah dalam akibat tererosi oleh aliran es atau gletser. Ciri khas dari tipe fjord yakni memiliki lembah berbentuk U jika dilihat dari atas, bertebing curam, bagian dasar berbatu dengan kontur khas yang terkikis oleh gletser.

Baca Juga :  Ekosistem Terumbu Karang: Pengertian, Ciri, Fungsi, Ancaman dan Upaya Pelestariannya

Pada bagian hulu, estuari mempunyai kedalaman lebih dari 300 meter, namun pada bagian ujung menjadi dangkal akibat endapan serpih batuan-batuan membentuk gigir di bawah air. Jika gigir berada pada posisi dangkal, dapat menghalangi pertukaran air (antara air tawar dengan laut). Sehingga pertukaran menjadi sedikit, dan air di bawah garis kedalaman gigir menjadi tidak atau jarang terganti dalam kurun waktu yang lama.

Lembah Sungai Yang Tenggelam

Tipe lembah sungai ini sebagian besar mulai terbentuk antara 15.000 dan 6.000 tahun lalu saat tudung es mencair dan permukaan laut naik menggenangi muara sungai purba. Selain itu, proses penurunan lahan di kawasan pesisir juga mempengaruhi proses ini.

Tipe ini banyak terbentuk di muara sungai yang melalui wilayah pesisir lebar, membentuk daerah estuari sempit, relatif dangka di dekat daratan, lebar dan mendalam ke arah laut. Perbandingan antara lebar perairan dengan kedalaman termasuk besar, kedalaman perairan tidak lebih dari 30 meter.

Tipe Pengaruh Tektonik

Estuari yang terbentuk oleh pergerakan tanah yang disebabkan aktivitas patahan tektonik, vulanisme, atau tanah longsor. Estuari tipe ini sangat sedikit ditemukan, salah satunya berada di Teluk San Francisco yang terbentuk akibat pergerakan sesar San Andreas.

Berdasarkan Sirkulasi Air

Estuari Berstratifikasi Sebagian

Estuari ini mempunyai air pasang posisi seimbang dengan aliran air tawar di muara sungai. Turbulensi mengakibatkan terdorong percampuran lebih merata pada kolom air, sehingga stratifikasi kadar garam lebih terjadi secara horizontal daripada vertikal.

Air yang berada di estuari semakin tinggi kadar garamnya jika semakin jauh dari mulut sungai. Tipe estuary ini paling banyak ditemukan dan juga dikenal dengan nama estuari campuran sebagian.

Estuari Baji Garam

Estuari baji garam terbentuk di muara sungai besar dengan aliran air tawar dari daratan mengatasi masuknya air laut, sedangkan pengaruh pasang laut tidak ketara. Untuk lapisan air tawar sungai mengalir di bagian atas lapisan air laut dengan ketebalan yang semakin menipis dan jauh jaraknya ke tengah laut.

Sebaliknya, dasar perairan air laut bergerak ke daratan dengan bagian ujung tipis menuju pangkal estuari. Terdapat penampang dari sisi seperti baji yang menusuk ke daratan pada bawah permukaan air.

Estuari ini juga disebut sebagai estuari berstratifikasi sempurna, sebab terdapat lapisan-lapisan yang jelas dari air tawar, air laut, serta lapisan campuran di antara keduanya.

Estuari Inversi

Estuari inversi terbentuk di kawasan dengan iklim kering dan laju penguapan air mempengaruhi aliran masuk air tawar. Di sini aliran air tawar dan air laut bersamaan masuk dan menguap pada bagian tengah estuari hingga terbentuk zona bersalinitas maksimum.

Air dengan tingkat garam tertinggi tenggelam dan mengalir keluar menuju laut pada lapisan bawah. Hingga akhirnya terbentuk pola stratifikasi salinitas dan aliran air yang berkebalikan dengan estuari baji garam.

Estuari Homogen Vertikal

Estuari ini merupakan percampuran air laut sebagai akibat dari pasang surut yang terjadi amat kuat, aliran air tawar sungai kuat hingga mengakibatkan stratifikasi vertikal hilang. Oleh karena kuatnya percampuran sehingga tidak ada lagi batasan antara air tawar dan air laut, maka air di estuari ini menjadi gradual dan dapat disebut juga sebagai estuari campuran sempurna.

Baca Juga :  Menguak Keindahan Alam: Ekosistem Adalah
Estuari Berkala

Sesuai dengan namanya, estuari ini memiliki sifat dan tipe yang cendrung berubah-ubah tergantung dari masuknya air tawar ke sistem dan juga dipengaruhi oleh iklim dan musim. Bahkan estuari ini dapat berubah dari sepenuhnya bersifat laut menjadi tipe-tipe lainnya.

Berdasarkan Salinitas

Jika dilihat dari salinitas atau kadar garam, estuari dapat dibedakan menjadi:

Oligohalin: kadar garam rendah (0,5%-3%)

Mesohalin: kadar garam sedang (3%-17%)

Polihalin: kadar garam tinggi (di atas 17%)

Proses Pembentukan Estuari

Proses terbentuknya estuari dimulai dari kenaikkan pada permukaan laut. Permukaan laut ini naik secara perlahan selama kurun waktu 12.000 tahun, sejak berakhirnya zaman es. Secara bertahap mulai relatif stabil selama 6.000 tahun terakhir.

Ketika laut naik, permukaan laut juga menenggelamkan lembah-lembah sungai dan mengisi palung glasial sampai akhirnya terbentuk estuari. Setelah terbentuk, estuari menjadi daerah perangkap bagi berbagai sedimen berupa lumpur, pasir, dan batuan yang terbawa oleh aliran sungai, hujan, bahkan pasir dari luat yang terbawa ketika pasang (khususnya pada daerah yang berada di sepanjang pantai).

Pada masa pertengahan pembentukan, estuari mulai menjadi lebih luas dan intertidal. Selain itu terdapat beberapa tumbuhan dan hewan yang dapat hidup di kawasan ini. Dataran berpasir mulai digantikan oleh dataran lumpur sebagai hasil dari sedimen halus setelah terjadi deforestasi.

Lamanya usia estuari tergantung dari seberapa cepat sedimen yang terisi di estuari. Lokasi pasang surut estuari umumya diapit oleh dataran intertidal yang luas, penghubung antara daratan dan lautan.

Apabila jumlah sedimen yang terisi atau masuk lebih banyak dibandingkan dengan sedimen yang keluar, maka estuari cepat terbentuk sampai akhirnya menjadi lahan yang kering. Besarnya kecepatan estuari untuk berakhir bervariasi.

Proses sedimentasi biasanya berlangsung dengan cukup lama, namun aktivitas tektonik seperi gempa bumi dapat menyebabkan kegiatan pada estuari berhenti secara tiba-tiba. Seperti yang terjadi pada tahun 1931, terjadi gempa bumi Napier yang menyebabkan kenaikkan sebagian Laguna Ahuriri lebih dari 1 meter atau jauh di atas permukaan air pasang hingga berubah menjadi lahan kering.

Konservasi Ekosistem Estuari

Adapun Konservasi Ekosistem Estuari diantaranya yaitu:

Pengelolaan Sumber Daya

Penting untuk menerapkan praktik pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan untuk melindungi estuari dari aktivitas manusia yang dapat merusak ekosistem ini.

Pemantauan Kualitas Air

Pemantauan rutin terhadap kualitas air estuari diperlukan untuk mengidentifikasi perubahan yang mungkin terjadi akibat aktivitas manusia atau perubahan alam.

Pemulihan Habitat

Upaya pemulihan habitat, seperti restorasi vegetasi mangrove, dapat membantu mengembalikan ekosistem estuari yang telah terganggu.

Pendidikan dan Kesadaran Masyarakat

Kesadaran masyarakat tentang pentingnya estuari sebagai sumber daya alam perlu ditingkatkan melalui program pendidikan dan kampanye konservasi.

Kesimpulan

Estuari adalah ekosistem yang kaya dan penting dalam mendukung kehidupan di perbatasan antara air tawar dan air laut. Upaya konservasi dan pengelolaan yang bijaksana diperlukan agar ekosistem ini tetap lestari, memastikan manfaatnya bagi keanekaragaman hayati dan manusia. Dengan pemahaman dan tindakan yang tepat, kita dapat melindungi keindahan dan fungsi penting ekosistem estuari untuk generasi mendatang.